Dear Un,
Aku akan jujur untuk satu hal tentang ini,
kebenaran atau kesalahan saat mulai merasakan semuanya
mungkin aku kalut, terhanyut dalam kabut buaian harapan tak pasti denganmu,
Aku rasa ini bukan Aku, bukan caraku mencintai,
Dear Un,
Aku mengagumimu lebih dari sekedar rasa ingin tau,
tak terhitung,
sampai ingin tau setiap detik yang kau habiskan disemua harimu,
bahkan aku ingin tau siapa yang kau beri senyuman disetiap pagi, siang dan malammu
mulai tak jelas antara kagum atau cemburu.
Aku melihatmu lebih dari sekedar tatapan laki laki haus cinta,
jauh sampai kedalam tulang tulangmu,
mungkin setiap detail rambutpun akan aku pikirkan ketika aku mulai melihatmu,
Nafsu lelakipun tak sampai sebesar ini,
ini sudah mulai serakah,
Aku ingin memilikimu !
Dear Un,
mungkin ketidak warasan ini sudah menjangkit sampai hati, sampai pada kadar rasa yang mereka sebut sayang,
iya,, aku menyayangimu
aku menyayangimu seperti sediakala, hah?
sesederhana ini saja, hanya sayang dan sayang saja tanpa buang buang emosi untuk selalu berangan angan jauh, sampai sedetail kata selamat pagi dan kecupan hangat saat pertama membuka mata.
sayang tanpa balas? tidak.
terlalu sakit jika sayangku kau anggap sampah,
Akupun tak ingin merugi dengan mengahbiskan semua waktu hanya untuk menyayangimu saja,
aku punya hidup, hidup yang aku bayangkan bersamamu, Un.
sesempurna itu nantinya.
Continue...
Worst
Puisi | Cerita | Kata Kata | Catatan
Rabu, 30 April 2014
Jumat, 25 April 2014
Apa si?
Seribu sudut tanpa ujung, hari ini, kemarin dan hari itu
harapan kecil tentang ini itu, Keluhan siapa mereka, apa maksud mereka, kenapa bisa begini, otak ini wajar? kecemasan ini masih bijaksana?
Apa cuma aku yang punya kemelut seperti ini?
tidak mungkin,,,
satu otak, satu kehidupan, seribu masalah?
lalu seribu otak seribu kehidupan?
tidak akan habis !
Jenuh,
lebih tepat dari sekedar harus mengeluh untuk setiap detik yang sudah aku pilih sendiri
ini resiko, seribu alasan dari apa,siapa,kapan,kenapa,bagaimana?
Analisa hidup tak cukup dengan itu,
lebih banyak ancaman, lebih sedikit peluang dan kesempatan?
DAMN! ilmu ekonomi?
Korelasi antar dan sesama manusia?
Whatever !
Akan aku coba menghitung kesempatan yang pernah aku raih,
harapan kecil ini masih menyimpan peluang
peluang untuk kembali dan terus hidup
hidup diantara korelasi yang saling membunuh karakter sesamanya
Manusia itu Aku,
yang punya kemelut sejuta rasa,
yang masih bingung dengan mimpiku sendiri,
Akan atau tidak, demam panggung atau ini sudah konser besar apa malah sandiwara?
harapan kecil tentang ini itu, Keluhan siapa mereka, apa maksud mereka, kenapa bisa begini, otak ini wajar? kecemasan ini masih bijaksana?
Apa cuma aku yang punya kemelut seperti ini?
tidak mungkin,,,
satu otak, satu kehidupan, seribu masalah?
lalu seribu otak seribu kehidupan?
tidak akan habis !
Jenuh,
lebih tepat dari sekedar harus mengeluh untuk setiap detik yang sudah aku pilih sendiri
ini resiko, seribu alasan dari apa,siapa,kapan,kenapa,bagaimana?
Analisa hidup tak cukup dengan itu,
lebih banyak ancaman, lebih sedikit peluang dan kesempatan?
DAMN! ilmu ekonomi?
Korelasi antar dan sesama manusia?
Whatever !
Akan aku coba menghitung kesempatan yang pernah aku raih,
harapan kecil ini masih menyimpan peluang
peluang untuk kembali dan terus hidup
hidup diantara korelasi yang saling membunuh karakter sesamanya
Manusia itu Aku,
yang punya kemelut sejuta rasa,
yang masih bingung dengan mimpiku sendiri,
Akan atau tidak, demam panggung atau ini sudah konser besar apa malah sandiwara?
Senin, 17 Maret 2014
Sepuluh ribuku
Aku mengamati,
kali ini aku jadwalkan pulang tepat waktu,
dan benar saja,
tempat yang sama, waktu yang sama dan posisi yang sama ,
16.45 Sore, dia sedang duduk santai di tangga itu,
diundakan pertama tepatnya ,
paling bawah, memandang kedepan .
mengenakan daster batik seperti biasanya, rambut putih diikat gulung,
hmmm wajahnya?
seperti biasa, tampak memikirkan sesuatu,
dengan sebatang rokok tetap jadi sahabat baiknya mungkin,
seperti biasa di jam-jam ini,
" nenek aku pulang" teriakku,
bukan maksud bicara keras kepada orang tua,
tapi memang harus keras, telinganya tak sesempurna waktu itu,
"he, iya pulang !" sahutnya singkat
senyum dengan manisnya, walau giginya sudah begitu jarang, habis dimakan asam manis hasil keringatnya .
Bolak balik aku lewat disampingnya,
posisi yang masih sama,
oke, dia acuh dengan semua yang ada,
meski kadang apapun juga disapanya dengan ramahnya :D
Dia tak lagi punya siapa-siapa,
ataupun mungkin juga apa-apa,
pemilik tanah menjanjikan banyak hal,
menukar hartanya dengan jaminan kehidupan yang akan terpenuhi, segalanya
tapi,,
sepuluh ribu yang kadang aku berikan, jadi harta yang berharga baginya
meski hanya cukup untuk beli rokok sahabatnya tiap sore,
lalu apa?
ini janji mereka?
meski dia senang, senang dengan hanya sepuluh ribu !
Seperti hanya itu hartanya
Sepuluh ribu yang seperti tak pernah dipegangnya seumur hidup ..
kali ini aku jadwalkan pulang tepat waktu,
dan benar saja,
tempat yang sama, waktu yang sama dan posisi yang sama ,
16.45 Sore, dia sedang duduk santai di tangga itu,
diundakan pertama tepatnya ,
paling bawah, memandang kedepan .
mengenakan daster batik seperti biasanya, rambut putih diikat gulung,
hmmm wajahnya?
seperti biasa, tampak memikirkan sesuatu,
dengan sebatang rokok tetap jadi sahabat baiknya mungkin,
seperti biasa di jam-jam ini,
" nenek aku pulang" teriakku,
bukan maksud bicara keras kepada orang tua,
tapi memang harus keras, telinganya tak sesempurna waktu itu,
"he, iya pulang !" sahutnya singkat
senyum dengan manisnya, walau giginya sudah begitu jarang, habis dimakan asam manis hasil keringatnya .
Bolak balik aku lewat disampingnya,
posisi yang masih sama,
oke, dia acuh dengan semua yang ada,
meski kadang apapun juga disapanya dengan ramahnya :D
Dia tak lagi punya siapa-siapa,
ataupun mungkin juga apa-apa,
pemilik tanah menjanjikan banyak hal,
menukar hartanya dengan jaminan kehidupan yang akan terpenuhi, segalanya
tapi,,
sepuluh ribu yang kadang aku berikan, jadi harta yang berharga baginya
meski hanya cukup untuk beli rokok sahabatnya tiap sore,
lalu apa?
ini janji mereka?
meski dia senang, senang dengan hanya sepuluh ribu !
Seperti hanya itu hartanya
Sepuluh ribu yang seperti tak pernah dipegangnya seumur hidup ..
apa?
Apa sudah ditemukan jalannya?
Atau masih sama?
Lalu kapan?
Dan Mengapa dia?
Aku masih yakin tidak ada, Bagaimana denganmu?
tempat itu sebenarnya menunggu ,
diam atau berpindah?
Sulit ya?
Seperti Helai daun yang tersesat .
Pernahkan ada yang mengalami ini?
Berkecamuk dalam hati, berteriak, meronta, memecah segala penjuru organ,
Tapi raga tetap diam, mulut terbungkam, mata kosong, hanya telinga yang mendengar tangisan itu,
Bagaimana orang lain?
tak satupun tahu,
tak akan ada yang mengerti, kecuali dia yang senasib denganku atau dengannya, tapi dia? siapa?
benar tidak ada?
Teriakan ini hanya sia-sia, bodoh !
tak pernah tersampaikan sekalipun berlari dari arah yang sama sedari dulu,
hati memacu semakin kencang,
ini terlalu sesak,
tak tahu sebelah mana !
terlalu sakit,
sekali lagi aku cuma bisa diam ..
Atau masih sama?
Lalu kapan?
Dan Mengapa dia?
Aku masih yakin tidak ada, Bagaimana denganmu?
tempat itu sebenarnya menunggu ,
diam atau berpindah?
Sulit ya?
Seperti Helai daun yang tersesat .
Pernahkan ada yang mengalami ini?
Berkecamuk dalam hati, berteriak, meronta, memecah segala penjuru organ,
Tapi raga tetap diam, mulut terbungkam, mata kosong, hanya telinga yang mendengar tangisan itu,
Bagaimana orang lain?
tak satupun tahu,
tak akan ada yang mengerti, kecuali dia yang senasib denganku atau dengannya, tapi dia? siapa?
benar tidak ada?
Teriakan ini hanya sia-sia, bodoh !
tak pernah tersampaikan sekalipun berlari dari arah yang sama sedari dulu,
hati memacu semakin kencang,
ini terlalu sesak,
tak tahu sebelah mana !
terlalu sakit,
sekali lagi aku cuma bisa diam ..
Pulang,
Malam ini aku berjalan lurus,
Ke tepian, Iya ketepian saja,
Aku jenuh disana,
Sudut pandangmu gak menjanjikan apapun
Aku mau pulang,
Sekedar pulang saja,
Pamer lencana sama bahu yang berdiri disana,
lalu menepi lagi,
Disini,
Nggak bisa lihat apa-apa,
Bahkan Aku lupa wajahku,
Kemana arah menepi?
Aku mau berjalan lurus untuk pulang
Hafid, March 16, 2014
Ke tepian, Iya ketepian saja,
Aku jenuh disana,
Sudut pandangmu gak menjanjikan apapun
Aku mau pulang,
Sekedar pulang saja,
Pamer lencana sama bahu yang berdiri disana,
lalu menepi lagi,
Disini,
Nggak bisa lihat apa-apa,
Bahkan Aku lupa wajahku,
Kemana arah menepi?
Aku mau berjalan lurus untuk pulang
Hafid, March 16, 2014
Sabar,,
Ingin ini belum berakhir disitu,
Sekali lagi dan lagi tak ada keramahan,
Tapi kita tau, lorong itu menyisakan sedikit cahaya
Saling menuntun, atau biar kau sendiri saja
Aku ingin pulang saja,
Tapi masih pagi,
Coba sebentar
Masih harus menoleh
merapikan lelap,
Dihari ini dan itu ..
Sekali lagi dan lagi tak ada keramahan,
Tapi kita tau, lorong itu menyisakan sedikit cahaya
Saling menuntun, atau biar kau sendiri saja
Aku ingin pulang saja,
Tapi masih pagi,
Coba sebentar
Masih harus menoleh
merapikan lelap,
Dihari ini dan itu ..
Pulang
Aku ingin pulang,
Kedua matanya menatapku terlalu picik,
Mencibir jauh sampai tulang rusuk,
lencanaku terlalu usang disentuh ..
Aku demam panggung
Sandiwara disini terlalu menyudutkan,
Kali ini berat,
Aku ingin pulang saja ..
Hafid, March 15, 2014
Kedua matanya menatapku terlalu picik,
Mencibir jauh sampai tulang rusuk,
lencanaku terlalu usang disentuh ..
Aku demam panggung
Sandiwara disini terlalu menyudutkan,
Kali ini berat,
Aku ingin pulang saja ..
Hafid, March 15, 2014
Langganan:
Komentar (Atom)