Aku mengamati,
kali ini aku jadwalkan pulang tepat waktu,
dan benar saja,
tempat yang sama, waktu yang sama dan posisi yang sama ,
16.45 Sore, dia sedang duduk santai di tangga itu,
diundakan pertama tepatnya ,
paling bawah, memandang kedepan .
mengenakan daster batik seperti biasanya, rambut putih diikat gulung,
hmmm wajahnya?
seperti biasa, tampak memikirkan sesuatu,
dengan sebatang rokok tetap jadi sahabat baiknya mungkin,
seperti biasa di jam-jam ini,
" nenek aku pulang" teriakku,
bukan maksud bicara keras kepada orang tua,
tapi memang harus keras, telinganya tak sesempurna waktu itu,
"he, iya pulang !" sahutnya singkat
senyum dengan manisnya, walau giginya sudah begitu jarang, habis dimakan asam manis hasil keringatnya .
Bolak balik aku lewat disampingnya,
posisi yang masih sama,
oke, dia acuh dengan semua yang ada,
meski kadang apapun juga disapanya dengan ramahnya :D
Dia tak lagi punya siapa-siapa,
ataupun mungkin juga apa-apa,
pemilik tanah menjanjikan banyak hal,
menukar hartanya dengan jaminan kehidupan yang akan terpenuhi, segalanya
tapi,,
sepuluh ribu yang kadang aku berikan, jadi harta yang berharga baginya
meski hanya cukup untuk beli rokok sahabatnya tiap sore,
lalu apa?
ini janji mereka?
meski dia senang, senang dengan hanya sepuluh ribu !
Seperti hanya itu hartanya
Sepuluh ribu yang seperti tak pernah dipegangnya seumur hidup ..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar