Read more: http://www.heyblogger.net/2012/08/cara-membuat-blog-lebih-ramah-terhadap.html#ixzz2voCbWNYB

Senin, 17 Maret 2014

Sepuluh ribuku

Aku mengamati,
kali ini aku jadwalkan pulang tepat waktu,
dan benar saja,
tempat yang sama, waktu yang sama dan posisi yang sama ,
16.45 Sore, dia sedang duduk santai di tangga itu,
diundakan pertama tepatnya ,
paling bawah, memandang kedepan .
mengenakan daster batik seperti biasanya, rambut putih diikat gulung,
hmmm wajahnya?
seperti biasa, tampak memikirkan sesuatu,
dengan sebatang rokok tetap jadi sahabat baiknya mungkin,
seperti biasa di jam-jam ini,
" nenek aku pulang" teriakku,
bukan maksud bicara keras kepada orang tua,
tapi memang harus keras, telinganya tak sesempurna waktu itu,
"he, iya pulang !" sahutnya singkat
senyum dengan manisnya, walau giginya sudah begitu jarang, habis dimakan asam manis hasil keringatnya .
Bolak balik aku lewat disampingnya,
posisi yang masih sama,
oke, dia acuh dengan semua yang ada,
meski kadang apapun juga disapanya dengan ramahnya :D
Dia tak lagi punya siapa-siapa,
ataupun mungkin juga apa-apa,
pemilik tanah menjanjikan banyak hal,
menukar hartanya dengan jaminan kehidupan yang akan terpenuhi, segalanya
tapi,,
sepuluh ribu yang kadang aku berikan, jadi harta yang berharga baginya
meski hanya cukup untuk beli rokok sahabatnya tiap sore,
lalu apa?
ini janji mereka?
meski dia senang, senang dengan hanya sepuluh ribu !
Seperti hanya itu hartanya
Sepuluh ribu yang seperti tak pernah dipegangnya seumur hidup ..

apa?

Apa sudah ditemukan jalannya?
Atau masih sama?
Lalu kapan?
Dan Mengapa dia?
Aku masih yakin tidak ada, Bagaimana denganmu?
tempat itu sebenarnya menunggu ,
diam atau berpindah?
Sulit ya?
Seperti Helai daun yang tersesat .

Pernahkan ada yang mengalami ini?
Berkecamuk dalam hati, berteriak, meronta, memecah segala penjuru organ,
Tapi raga tetap diam, mulut terbungkam, mata kosong, hanya telinga yang mendengar tangisan itu,
Bagaimana orang lain?
tak satupun tahu,
tak akan ada yang mengerti, kecuali dia yang senasib denganku atau dengannya, tapi dia? siapa? 
benar tidak ada?

Teriakan ini hanya sia-sia, bodoh !
tak pernah tersampaikan sekalipun berlari dari arah yang sama sedari dulu,
hati memacu semakin kencang,
ini terlalu sesak,
tak tahu sebelah mana !
terlalu sakit,
sekali lagi aku cuma bisa diam ..

Pulang,

Malam ini aku berjalan lurus,
Ke tepian, Iya ketepian saja,
Aku jenuh disana,
Sudut pandangmu gak menjanjikan apapun 

Aku mau pulang,
Sekedar pulang saja,
Pamer lencana sama bahu yang berdiri disana,
lalu menepi lagi,

Disini,
Nggak bisa lihat apa-apa,
Bahkan Aku lupa wajahku,
Kemana arah menepi?
Aku mau berjalan lurus untuk pulang

Hafid, March 16, 2014

Sabar,,

Ingin ini belum berakhir disitu,
Sekali lagi dan lagi tak ada keramahan,
Tapi kita tau, lorong itu menyisakan sedikit cahaya
Saling menuntun, atau biar kau sendiri saja
Aku ingin pulang saja,
Tapi masih pagi,
Coba sebentar
Masih harus menoleh
merapikan lelap,
Dihari ini dan itu .. 


Pulang

Aku ingin pulang,
Kedua matanya menatapku terlalu picik,
Mencibir jauh sampai tulang rusuk,
lencanaku terlalu usang disentuh ..

Aku demam panggung
Sandiwara disini terlalu menyudutkan,
Kali ini berat,
Aku ingin pulang saja ..

Hafid, March 15, 2014

Iya,

Aku ambil ya,
Balonnya :)
Aku akan duduk diam disampingmu,
tak akan menyia nyiakan waktumu yang tak lagi banyak,
Akan aku jaga bahagia ini,
Tapi,,
tak berani aku peluk,
Aku takut terlalu jauh berharap
Dia tak begitu kuat,
Akan aku biarkan saja dijariku
menemani waktu-waktu kita yang sebentar ini,
dalam senyum yg seharusnya sudah berpijar,
dan bunga bunga sepereti milik mereka yang mulai mekar,
Menanti pelangi abu abu dengan waktu,
sebentar sebentar diam,
diam dan diam sebentar, iya.. disampingmu ..


Kamis, 13 Maret 2014

Gadis Buku Merah

Gadis itu murung,
masih memakai seragam sekolah, duduk dihalaman rumahnya yang sepi
kakinya berayun-ayun, sambil melihat buku dipangkuannya
perlahan aku menghampiri, melihat matanya ..
menitihkan butir-butir bening, bukunya berisi angka-angka
dan ada angka 1 ( satu) disitu,
hmm tidak ..
aku tau itu apa ..
dia ranking satu, dari 38 siswa
lalu kenapa dia bersedih ?
aku tanyakan perlahan, hatinya memang masih kecil
masih terlalu muda untuk mengerti kesedihan itu
Dia ingin ucapan selamat,
dia ingin sebuah pengakuan
iya,
hanya itu saja, sesederhana itu
Aku selalu mengikutinya, dia mengusahakan yang terbaik
saat yang lain bermain, dia membaca, saat yang lain bilang lelah dia selalu semangat
Dia ranking 1 ( satu )
tapi tak ada yang mengerti
dia menunggu, dan sudah tiga hari
tetap tak ada ucapan selamat, yaaa.. karena mengambil buku merah itupun dia hanya sendiri
maaf,
tanganku tak mampu mengusap
kesedihanmu begitu deras
Sudah satu jam berlalu,
masih duduk ditempat yang sama dengan rambut sebahunya mulai kusut
poninya tertiup angin dan berkali-kali coba dibenarkannya
matanya seperti menatap Tuhan
kau berdoa?
"selamat ya.."
Aku bisikkan perlahan padanya
kali ini bukan sekedar Doa
bukan berlari dan tertawa, tapi tangisnya semakin menjadi
sekeras-kerasnya

Pelangi, 12 maret 2014

Nothing

Menjadi yang dilupakan itu,
bukan masalah mendua atau diduakan, 
bukan ditinggalkan atau diacuhkan, tapi.. 
saat harus berbalik arah melawan dan membohongi hati, 
bertarung dengan fikiran, 
melangkah mundur tanpa melihat dan semakin jauh meninggalkan semua waktu,
sesuatu yg special dan semua keindahan yg semula utuh.. 
yap itu bukan untukmu/aku/kita lagi

Hafid, 03 Februari 2014

Pelangi Sendu

Pelangi : " Pinjam tanganmu, piih.."
Aku     : " Kenapa lagi..??"
Pelangi : " Pinjam, :'( "
Aku     : " Silahkan, jika memang bisa .. "
20.45 WIB, 489 Km jarak, mana mungkin bisa ..terlihat mustahil

Pelangi : " terimakasih .. "
untuk apa? sedangkan tidak ada satu halpun yang aku lakukan , menenangkankah?
Aku      : " Sekedar tangan, tak ada sayap lagi buat terbang . "
Pelangi : " iya .. :'(

Maksudmu apa dengan "iya" ?
aku masih sibuk meredam semuanya,
kita sama buta, Run
kamu gadis kecil dengan Buku Raport warna merah, dan aku..
daun yang tak tau arah ..
Saling merengkuh ya :)

Aku     : " Sama-sama tak punya paruh buat mengeluh,begitu juga sayap, cuma tersisa kaki, pilihanmu buat                   menjalani dan berjalan atau berlari "
Pelangi : " Mau duduk diam dulu,
                menikmati tajamnya titik hujan, penuh kebohongan
                indah memang, hanya bayangan semu diawal,
                seperti fatamorgana, hanya membuat tertawa sebentar
                semakin dekat semakin sakit melihat
                kalau semua nggak ada,
                sama semu ..
Aku     : " nggak ada yang seindah pelangi, Run .."
Pelangi : " iya..dia hanya satu .. "
Aku     : " Tak ada hitam diantaranya, indah
tapi kamu tau kenapa dia indah?
karna ada hitam dibayangannya, maka merah terlihat jelas.."
Pelangi : " iya .. "

Apa maksudmu dengan "iya"?
Aku cuma mencoba menggambarkan sedikit kebahagiaan
entah sama denganmu atau hanya " iya" saja?




Untuk sahabatku yg rindu rumah

Balon Sore tadi,
pelangi sebelum malam ini, sama
Pudar ..

Aku tau kita rindu rumah,
Bahu itu tidak berdiri
Dia menyapa dari balik atap saja
Siapa Mereka?

Duduk disebelahku
ambil kembali balon kemarin, dan Diam
Waktuku tak banyak,
tak sempat menunggu
Jangan hitung kembali sisa gerimis
Sudah Reda

Hafid, 12 Maret 2014

Diduakan

Dua jari, Satu mahkota

Siapa yang terdiam?

Aku, Melangkah mundur dan Merajam,

Bukan,

Buta saja sampai Besok,

Matanya begitu tajam, tanpa tepi dan panggilan

Tidak celaan, tidak juga rindu,

Melangkah mundur,

Siapa?

Aku yang hanya terdiam?

Sudah terlalu jauh Merindu,

Kukembali saja,

Melangkah mundur pada satu Mahkota


Hafid, 12 Maret 2014

Aku,,

Aku,

aku bukan bujang tua

bukan gadis kecil yg belajar merajuk

Aku batu besar yg terbawa arus

terbawa arus dan tak tau arah

tak tau arah kemana harus kembali

ke laut?

atau kembali pada gadis kecil dan belajar merajuk

Hafid, 12 Maret 2014

Aku,

Aku,
daun-daun muda diantara gerimis
pagi, dan mendongak keatas
Aku,
roda-roda berputar diantara harapan
mencibir mimpi dan terharu
tapi Aku, manakala Aku
masih disini, tak berputar dan tak juga reda

Hafid, 12 Maret 2014

Bingung

Aku, masih mengayuh decak kagum,
tak lagi embun bahkan senja,
tapi berlari lebih jauh dan menipu diri, dan Aku ..
Melayang lemas diujung jari Ibuku,
Aku, masih tersenyum
kali ini begitu baku, dengan ejaan dan titik koma,
Aku,
Mau Kemana??
berhenti berlari dan mengayuh,
atau berhenti kagum dengan mimpi yang ku kayuh ..”
Hafid, 12 Maret 2014

Silent

Hitam, Pekat tanpa pelangi ..
Embun tak bertuan dan hangus oleh waktu ,
masih, berlari tanpa ujung
Putih, Biru, sedih, haru
dan kemudian hancur “
hafid : 12 maret 2014